IDRT vs USDT: Stablecoin Mana yang Lebih Efisien untuk Trader Indonesia?
IDRT berbasis rupiah, USDT berbasis dolar – dua stablecoin ini mendominasi pasar crypto Indonesia dengan cara yang berbeda. Pilihan kamu di sini menentukan biaya spread tersembunyi, akses ke pasangan trading, dan kemudahan masuk-keluar pasar. Kami bedah keduanya dari sudut pandang yang benar-benar praktis untuk trader lokal.

Original analysis, verified sources, real-world experience
Setiap kali kamu mau masuk ke pasar crypto Indonesia, ada satu pertanyaan yang datang sebelum "beli apa": kamu pakai stablecoin apa? Dua nama yang paling sering muncul adalah IDRT – stablecoin berbasis rupiah – dan USDT – stablecoin berbasis dolar Amerika. Keduanya dipatok ke mata uang fiat, tapi cara kerjanya, dan dampaknya ke portofoliomu, cukup berbeda. Kami lihat dari empat sisi yang paling bisa kamu rasakan langsung.
Apa Itu IDRT dan Siapa yang Menerbitkannya?
IDRT dikeluarkan oleh PT Rupiah Token Indonesia, perusahaan yang berbasis di Jakarta dan sudah terdaftar di Bappebti sejak 2019. Satu IDRT setara dengan satu rupiah – tidak lebih, tidak kurang. Dana rupiah yang kamu depositkan disimpan di rekening escrow di bank-bank Indonesia berlisensi, sehingga nilai backing-nya bisa diaudit secara berkala.
Secara teknis, IDRT berjalan di atas blockchain Ethereum (ERC-20), Tron (TRC-20), dan BNB Chain (BEP-20). Tapi dalam praktiknya, sebagian besar volume IDRT berputar di dalam ekosistem Indodax – di luar platform itu, likuiditasnya tipis sekali.
USDT: Standar Global yang Masuk ke Pasar Lokal
USDT dari Tether adalah stablecoin terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar, melampaui $110 miliar per pertengahan 2026. Di Indonesia, semua exchange besar – Indodax, Pintu, Tokocrypto, Reku – menyediakan pasangan USDT. Hampir semua altcoin dan token DeFi juga berdenominasi USDT di pasar internasional.
Kamu bisa memakai USDT untuk trading di exchange luar negeri, kirim dana ke platform DeFi, atau sekadar simpan nilai tanpa terpapar volatilitas crypto. Likuiditas USDT jauh melampaui IDRT di hampir semua skenario di luar ekosistem lokal.
Empat Faktor yang Benar-Benar Penting
Spread Konversi yang Sering Diabaikan
Ini bagian yang paling sering dilewatkan. Kalau kamu beli USDT pakai rupiah di exchange Indonesia, ada dua lapis konversi yang terjadi: IDR → USD dalam bentuk spread kurs, baru kemudian masuk ke posisi trading. Spread ini biasanya berkisar 0,3% sampai 0,8% tergantung exchange dan kondisi pasar.
Dengan IDRT, kamu melewati lapisan konversi mata uang itu. Satu juta rupiah masuk, satu juta IDRT keluar – tanpa biaya kurs. Untuk trading jangka pendek yang frekuensinya tinggi di Indodax, efisiensi ini nyata terasa.
Jumlah Pasangan Trading yang Tersedia
Di Indodax, tersedia sekitar 30–40 pasangan trading IDRT – cukup untuk mayoritas altcoin populer seperti BTC/IDRT, ETH/IDRT, dan SOL/IDRT. Untuk kebutuhan sehari-hari trader lokal, jumlah ini sudah memadai.
USDT menawarkan ratusan pasangan di exchange Indonesia, dan ribuan di exchange internasional. Kalau kamu mau trading token yang baru listing atau aset yang lebih niche, hampir pasti hanya ada pasangan USDT-nya – IDRT tidak ada di sana.
Akses DeFi dan Mobilitas Lintas Chain
Untuk DeFi, USDT menang jauh tanpa perdebatan. USDT tersedia di hampir semua chain – Ethereum, Solana, Arbitrum, Base, Tron – dan diterima di protocol-protocol besar seperti Aave, Uniswap, Curve, dan Pendle.
IDRT secara teknis ada di Ethereum dan beberapa chain lain, tapi pool likuiditasnya di DeFi sangat kecil. Mencoba farming yield dengan IDRT di luar Indodax hampir pasti berujung pada spread besar atau pool yang kosong. Untuk aktivitas DeFi apapun, USDT adalah satu-satunya pilihan yang masuk akal saat ini.
Pajak dan Efisiensi Biaya
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 68/PMK.03/2022, kedua stablecoin ini sama-sama dikenakan PPh final 0,1% dari nilai transaksi dan PPN 0,11% ketika kamu melakukan pertukaran di exchange Indonesia yang terdaftar Bappebti.
Yang sering tidak disadari: konversi USDT ke IDRT – atau sebaliknya – juga dihitung sebagai transaksi crypto yang kena pajak. Kalau kamu sering bolak-balik antara dua stablecoin ini, biaya pajaknya menumpuk tanpa kamu sadari. Pilih satu stablecoin dari awal dan konsisten bisa menghemat biaya kecil tapi nyata dalam jangka panjang.
Siapa yang Lebih Cocok Pakai Mana?
Kalau aktivitas trading kamu hampir seluruhnya di Indodax dan tidak butuh akses ke exchange luar atau DeFi, IDRT punya keunggulan nyata dari sisi efisiensi konversi dan kemudahan masuk-keluar rupiah. Spread yang kamu hemat di setiap transaksi bisa signifikan kalau volume trading kamu besar.
Tapi kalau kamu aktif di beberapa platform – beli di Indodax lalu kirim ke Bybit atau platform lain untuk trading futures, atau mau farming di DeFi – USDT jauh lebih fleksibel. Biaya spread konversi awal yang kamu bayar terkompensasi oleh fleksibilitas jangka panjang.
Ada juga kasus penggunaan yang lebih spesifik: IDRT cocok untuk tabungan rupiah digital jangka pendek bagi kamu yang tidak mau terekspos fluktuasi kurs USD/IDR, terutama ketika rupiah sedang volatile terhadap dolar. Sebaliknya, USDT lebih cocok untuk lindungi nilai terhadap depresiasi rupiah dalam jangka menengah sampai panjang.
Bayangan Digital Rupiah di Cakrawala
Bank Indonesia sedang mengembangkan Digital Rupiah (e-Rupiah) sebagai proyek CBDC melalui Project Garuda. Roadmap yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia menunjukkan bahwa e-Rupiah dirancang sebagai alat pembayaran yang diatur penuh – bukan aset investasi atau instrumen trading seperti crypto dan stablecoin swasta.
Posisi IDRT dalam ekosistem ini masih abu-abu. Skenario koeksistensi memungkinkan – IDRT untuk ekosistem crypto dan DeFi, e-Rupiah untuk pembayaran sehari-hari. Tapi regulator juga bisa memilih membatasi stablecoin privat begitu e-Rupiah siap digunakan publik. Ini risiko jangka panjang yang perlu masuk perhitungan kalau kamu menyimpan IDRT dalam jumlah besar.
Sampai peta regulasi itu jelas, IDRT tetap pilihan yang valid untuk ekosistem lokal – hanya saja jangan taruh semua telur di keranjang yang regulasinya belum final.
Intinya
IDRT menang di efisiensi untuk trader lokal yang fokus di Indodax dan tidak butuh jangkauan global. USDT menang di likuiditas, fleksibilitas, dan akses ke seluruh ekosistem crypto internasional. Yang paling penting: pilih satu secara sadar berdasarkan kebutuhan kamu, bukan karena default exchange. Keputusan kecil ini menentukan berapa banyak biaya tersembunyi yang kamu bayar setiap kali masuk dan keluar pasar.
Artikel ini bersifat edukatif dan bukan saran investasi. Selalu lakukan riset sendiri sebelum membuat keputusan finansial.
FAQ
Apakah IDRT aman dan legal diperdagangkan di Indonesia?
Ya. IDRT diterbitkan oleh PT Rupiah Token Indonesia yang sudah terdaftar dan diawasi oleh Bappebti. Token ini masuk dalam daftar aset crypto yang legal diperdagangkan di Indonesia, dengan dana backing disimpan di rekening escrow di bank berlisensi Indonesia.
Apakah konversi dari USDT ke IDRT dikenakan pajak?
Ya. Berdasarkan PMK No. 68/PMK.03/2022, setiap pertukaran antar aset crypto di exchange Indonesia yang terdaftar Bappebti dikenakan PPh final 0,1% dan PPN 0,11% dari nilai transaksi. Ini berlaku juga untuk pertukaran antar stablecoin, termasuk USDT ke IDRT atau sebaliknya.
Bisakah saya pakai IDRT di platform DeFi?
Secara teknis bisa – IDRT tersedia dalam format ERC-20 di Ethereum. Namun likuiditas IDRT di protocol DeFi seperti Uniswap atau Curve sangat kecil, sehingga kamu kemungkinan menghadapi spread besar atau kesulitan menemukan pasangan pool yang aktif. Untuk aktivitas DeFi, USDT adalah pilihan yang jauh lebih praktis.
Artikel ini untuk tujuan edukasi dan bukan saran investasi. Aset kripto memiliki risiko tinggi. Hanya perdagangkan dana yang mampu Anda relakan.
Tim CoinMagnetic
Investor kripto sejak 2017. Kami berinvestasi dengan uang sendiri dan menguji setiap exchange secara langsung.
Diperbarui: September 2026
Ikuti analisis kami di Telegram
Kami menerbitkan analisis, rangkuman dan prakiraan di saluran Telegram.
Ikuti saluranAlat dan sumber daya berguna
Artikel terkait

PPh 0,1% dan PPN 0,11%: Hitungan Nyata Pajak Crypto Kamu Setiap Transaksi

Dua dari tiga sinyal take-profit aktif. Yang ketiga justru lebih penting

Fatwa MUI soal Crypto: Mana yang Halal dan Mana yang Harus Kamu Hindari
