Lonjakan minyak Brent ke USD 110 per barel menyusul eskalasi serangan Houthi

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mencatat eskalasi tajam setelah serangan kelompok Houthi di jalur pelayaran internasional semakin memanas. Perkembangan terbaru ini langsung mendorong lonjakan harga minyak mentah Brent hingga menembus level USD 110 per barel di pasar global.
Bagi pasar keuangan secara luas, kenaikan harga komoditas energi ini memiliki arti penting karena minyak mentah merupakan salah satu komponen utama penentu inflasi global. Lonjakan harga energi yang terjadi secara tiba-tiba sering kali memaksa bank sentral dunia untuk mempertahankan suku bunga tinggi demi meredam tekanan harga.
Dalam ekosistem aset kripto, gejolak makroekonomi seperti ini biasanya memicu reaksi langsung dari para pelaku pasar. Kenaikan inflasi yang didorong oleh harga minyak dapat memperkuat sentimen risk-off, di mana investor cenderung mengurangi paparan pada aset berisiko tinggi termasuk Bitcoin dan altcoin dalam jangka pendek.
Kami melihat bahwa pergerakan harga kripto ke depan akan sangat bergantung pada seberapa lama krisis energi ini berlangsung dan dampaknya terhadap kebijakan moneter global. Jika konflik terus berlanjut, volatilitas di pasar kripto diperkirakan akan tetap tinggi seiring dengan penyesuaian posisi para investor menghadapi tekanan makroekonomi.
Tim CoinMagnetic
Investor kripto sejak 2017. Kami berinvestasi dengan uang sendiri dan menguji setiap exchange secara langsung.
Diperbarui: Oktober 2026
Dari analisis kami:
Ingin mendapatkan berita lebih awal?
Ikuti saluran Telegram kami – kami memposting berita dan analisis terkini.
Ikuti saluranBerita terkait

GTA 6 Akan Menguras US$1 Miliar dari Ekonomi AS dengan Take-Two Diperkirakan Meraup Jumlah yang Sama

Hashim Djojohadikusumo raup Rp4,06 triliun dari penjualan saham WIFI

Bursa Efek Indonesia awasi pergerakan saham LUCY dan VKTR

Penilaian Citi tentang dampak kecerdasan buatan pada industri perangkat lunak

Penurunan harga minyak dorong reli 3,54 persen KOSPI dan 1,43 persen Nikkei
