
Iran baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka sedang mempertimbangkan untuk mengenakan biaya kepada kapal tanker yang melewati Selat Hormuz dengan menggunakan aset kripto. Dalam pernyataan terbaru, Hamid Hosseini, juru bicara Serikat Eksportir Produk Minyak, Gas, dan Petrokimia Iran, menyebutkan Bitcoin (BTC) sebagai salah satu opsi. Namun, analisis dari Chainalysis menunjukkan bahwa stablecoin mungkin lebih cocok sebagai alat pembayaran, mengingat cara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) selama ini melakukan pemindahan dana.
Penggunaan aset kripto sebagai metode pembayaran di Iran bukanlah hal baru. Negara ini telah mengadopsi teknologi blockchain untuk berbagai tujuan, termasuk dalam perdagangan internasional. Dengan mempertimbangkan pembayaran dalam stablecoin, Iran berusaha untuk mengatasi sanksi internasional yang menghambat akses mereka terhadap sistem keuangan global. Stablecoin, yang nilainya biasanya terikat pada mata uang fiat seperti Dolar AS, dapat memberikan stabilitas harga yang lebih baik dibandingkan Bitcoin, yang dikenal dengan volatilitasnya yang tinggi.
Keputusan Iran untuk mengenakan biaya dalam bentuk kripto sangat penting mengingat Selat Hormuz adalah jalur pengiriman minyak yang strategis dan vital bagi ekonomi global. Sekitar sepertiga dari minyak dunia melewati selat ini, sehingga kebijakan baru ini berpotensi memengaruhi harga minyak dan pasar energi secara keseluruhan. Jika Iran berhasil menerapkan sistem pembayaran ini, hal ini dapat membuka jalan bagi negara-negara lain untuk mengeksplorasi penggunaan aset kripto dalam transaksi internasional mereka, terutama di tengah ketegangan geopolitik.
Dampak terhadap pasar crypto bisa sangat signifikan. Jika Iran mulai menerima stablecoin untuk biaya pelayaran, ini bisa mendorong adopsi lebih luas dari stablecoin di negara-negara yang terpengaruh oleh sanksi atau yang memiliki masalah dalam sistem keuangan tradisional. Pasar crypto mungkin mengalami lonjakan minat, terutama dari investor dan pelaku pasar yang melihat potensi penggunaan stablecoin dalam transaksi internasional. Namun, ini juga dapat menarik perhatian regulator di seluruh dunia, yang mungkin akan merespons dengan kebijakan lebih ketat terhadap penggunaan cryptocurrency dalam transaksi lintas batas.
Melihat ke depan, prospek penggunaan stablecoin oleh Iran dan negara-negara lain dapat memicu inovasi dalam cara pembayaran internasional dilakukan. Kami berpotensi melihat kolaborasi antara negara-negara yang memiliki visi serupa dalam memanfaatkan teknologi blockchain dan aset digital. Selain itu, jika Iran berhasil mengimplementasikan sistem ini, hal ini bisa menjadi model bagi negara lain yang ingin menghindari sanksi dan membangun sistem pembayaran alternatif yang lebih terdesentralisasi.
Penting untuk mencermati perkembangan ini, karena situasi di Selat Hormuz dan kebijakan Iran akan terus memengaruhi dinamika pasar energi dan cryptocurrency global. Kami akan terus mengikuti berita terkait dan memberikan update untuk membantu komunitas crypto memahami implikasi dari langkah ini.
CoinMagnetic Team
Crypto investors since 2017. We trade with our own money and test every exchange ourselves.
Updated: April 2026





