Lonjakan wallet baru Uniswap capai rekor tertinggi sejak November 2022 di tengah koreksi

Di CoinMagnetic, kami memantau perkembangan terbaru pada ekosistem Uniswap yang menunjukkan dinamika menarik di tengah tekanan pasar. Harga token UNI tercatat mengalami penurunan sebesar 25,75% dalam sebulan terakhir dan menyentuh level US$6,93. Meskipun pergerakan harga sedang melemah, data on-chain justru menampilkan aktivitas jaringan yang sangat kontras dengan tren harga saat ini.
Berdasarkan data dari firma analitik Santiment yang kami analisis, jaringan Uniswap mencatatkan lonjakan alamat wallet baru terbesar dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Tercatat ada sebanyak 2.295 wallet UNI baru yang berhasil tercipta hanya dalam durasi satu hari saja. Lonjakan partisipasi pengguna baru ini menunjukkan bahwa minat adopsi terhadap protokol desentralisasi ini masih sangat tinggi meskipun pasar secara keseluruhan sedang lesu.
Bagi pasar kripto secara umum, fenomena divergensi antara harga yang turun dan pertumbuhan alamat aktif ini sering kali diamati oleh para analis sebagai indikasi akumulasi. Di satu sisi, penurunan harga mencerminkan kehati-hatian investor dalam jangka pendek. Namun di sisi lain, masuknya pengguna baru menunjukkan bahwa fundamental jaringan tetap bertumbuh seiring dengan persiapan peluncuran Uniswap versi v4 yang terus didorong oleh pengembang.
Ke depannya, kami melihat bahwa keberlanjutan tren penciptaan wallet baru ini akan menjadi kunci utama bagi pergerakan harga UNI selanjutnya. Menurut penjelasan Santiment, lonjakan ini berpotensi memperkuat level harga saat ini dan menjadi katalis bagi pemulihan, asalkan tingkat adopsi dan pembuatan wallet baru tetap tinggi di tengah ketidakpastian pasar kripto global.
Tim CoinMagnetic
Investor kripto sejak 2017. Kami berinvestasi dengan uang sendiri dan menguji setiap exchange secara langsung.
Diperbarui: Oktober 2026
Dari analisis kami:
Ingin mendapatkan berita lebih awal?
Ikuti saluran Telegram kami – kami memposting berita dan analisis terkini.
Ikuti saluranBerita terkait

Defisit pasokan tembaga sebesar 44% pada tahun 2050 di tengah penurunan harga

Rupiah tutup pekan di zona hijau seiring pelemahan dolar AS ke level Rp18.040

Sinyal Pasar Obligasi yang Terakhir Terlihat pada Guncangan Tarif 2025 Kini Muncul Lagi

Dominasi sektor teknologi di S&P 500 capai 50 persen, picu kekhawatiran pendanaan AI

Tom Lee sebut imbal hasil di bawah 5% tandai akhir aksi jual AI
