Pekerja entry-level mengalami tekanan tertinggi akibat AI, lapor Goldman Sachs

Laporan terbaru dari Goldman Sachs mengungkapkan bahwa pekerja entry-level adalah kelompok yang paling merasakan dampak negatif dari penerapan kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja. Dalam riset yang dirilis pada hari Rabu, bank investasi ini menganalisis tren perekrutan di ekonomi maju dan menemukan bahwa penurunan jumlah pekerjaan paling signifikan terjadi pada posisi awal karier. Hal ini menunjukkan bagaimana teknologi AI dapat mengubah lanskap pekerjaan dengan cepat dan drastis, terutama bagi mereka yang baru memulai kariernya.
Pentingnya laporan ini tidak dapat diabaikan, mengingat AI semakin diintegrasikan dalam berbagai sektor industri. Dengan kemajuan teknologi yang pesat, banyak perusahaan beralih ke solusi otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya operasional. Namun, ini juga berarti bahwa banyak pekerjaan yang sebelumnya diisi oleh manusia, terutama di tingkat entry-level, kini berisiko hilang. Penelitian Goldman Sachs mencakup lebih dari 800 jenis profesi, yang mencerminkan dampak luas yang mungkin ditimbulkan oleh AI terhadap pasar tenaga kerja.
Dampak pasar dari temuan ini bisa sangat signifikan. Di satu sisi, perusahaan dapat mengurangi biaya dan meningkatkan produktivitas dengan memanfaatkan teknologi AI, tetapi di sisi lain, hal ini dapat menyebabkan peningkatan angka pengangguran di kalangan pekerja muda yang baru saja memasuki dunia kerja. Jika tren ini berlanjut, kita mungkin akan melihat perubahan struktur pasar kerja yang lebih besar, di mana posisi entry-level semakin sulit untuk diisi, dan persaingan untuk pekerjaan yang lebih tinggi semakin ketat.
Ke depan, prospek untuk pekerja entry-level menjadi semakin tidak pasti. Meskipun teknologi terus berkembang, ada kebutuhan mendesak untuk menciptakan program pelatihan dan pendidikan yang dapat membantu pekerja menyesuaikan diri dengan perubahan ini. Perusahaan dan pemerintah diharapkan dapat bekerja sama untuk mengembangkan inisiatif yang mendukung transisi pekerja ke posisi yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri di era digital. Dalam konteks ini, penting bagi semua pemangku kepentingan untuk mempertimbangkan bagaimana mereka dapat beradaptasi dengan perubahan dan memastikan bahwa peluang pekerjaan tetap tersedia bagi generasi mendatang.
Tim CoinMagnetic
Investor kripto sejak 2017. Kami berinvestasi dengan uang sendiri dan menguji setiap exchange secara langsung.
Diperbarui: Agustus 2026
Dari analisis kami:
Ingin mendapatkan berita lebih awal?
Ikuti saluran Telegram kami – kami memposting berita dan analisis terkini.
Ikuti saluranBerita terkait

Bank RI kini sediakan layanan transaksi renminbi dengan permintaan Rp713 triliun

Bank Indonesia salurkan likuiditas Rp 446,5 triliun ke perbankan hingga Agustus

12 dari 15 pemegang institusi MSTR tambah saham meski jual Bitcoin

Mantri BRI Hadirkan Layanan Perbankan di Kepulauan Maluku Utara

BlackRock dan VanEck jelaskan penurunan Bitcoin 50% setelah dukungan Wall Street
