Ancaman Sebenarnya untuk Pembayaran Bitcoin Bukan Teknologi, Kata Tim Jack Dorsey

Di CoinMagnetic, kami selalu memantau perkembangan terbaru dalam ekosistem pembayaran aset digital. Baru-baru ini, tim Bitcoin di Block, Spiral, menyampaikan pandangan menarik mengenai adopsi pembayaran Bitcoin yang saat ini dinilai kurang diminati oleh masyarakat luas. Menurut mereka, tantangan utama yang dihadapi bukanlah dari sisi kesiapan teknologi, melainkan hambatan lain yang lebih mendasar.
Pernyataan ini muncul di tengah dinamika industri keuangan yang bergerak cepat. Sementara para raksasa pembayaran global seperti Stripe dan Visa lebih memilih untuk mengintegrasikan dan mendukung stablecoin dalam jaringan mereka, Bitcoin sering kali tertinggal dalam fungsi transaksi harian. Dominasi stablecoin dinilai lebih menarik bagi pedagang dan konsumen karena stabilitas nilainya yang terikat dengan mata uang fiat.
Bagi pasar kripto secara keseluruhan, situasi ini memberikan tekanan tersendiri pada narasi utilitas Bitcoin sebagai alat tukar sehari-hari. Meskipun adopsi sebagai aset penyimpanan nilai atau digital gold terus menguat, pertumbuhan volume transaksi ritel melalui jaringan utama masih berjalan lambat. Kompetisi langsung dengan stablecoin memaksa para pengembang untuk memikirkan ulang strategi penetrasi pasar mereka.
Ke depan, tim Block dan Spiral berencana meluncurkan berbagai ide moonshot atau inovasi radikal untuk mengatasi hambatan adopsi ini. Kami di CoinMagnetic akan terus mengamati bagaimana inisiatif baru tersebut dapat mengubah lanskap pembayaran kripto. Keberhasilan dalam memecahkan masalah ini akan menjadi penentu apakah Bitcoin mampu bersaing secara fungsional dengan sistem pembayaran konvensional dan stablecoin.
Tim CoinMagnetic
Investor kripto sejak 2017. Kami berinvestasi dengan uang sendiri dan menguji setiap exchange secara langsung.
Diperbarui: Oktober 2026
Dari analisis kami:
Ingin mendapatkan berita lebih awal?
Ikuti saluran Telegram kami – kami memposting berita dan analisis terkini.
Ikuti saluranBerita terkait

Airlangga tanggapi proyeksi rupiah tembus Rp19.000 per dolar AS dengan optimis

PT Djarum memastikan sikap kooperatif usai kantor di Kudus digeledah KPK

Chandra Asri menyudahi buyback saham lebih cepat pada 28 Oktober 2026

Keputusan The Fed memicu strategi berbeda di pasar spot dan derivatif

Data 5,7 Juta Akun Pelanggan Fore Kopi (FORE) Bocor
